Pemahaman mengenai praktik khitan (sirkumsisi) dalam Islam didasarkan pada Al-Qur’an, hadis, dan pandangan ulama. Manfaat khitan dalam pandangan islam adalah tindakan pengangkatan kulit yang menutupi ujung kepala penis pada laki-laki. Ini adalah praktik yang banyak dilakukan oleh umat Islam sebagai bagian dari tradisi agama mereka.  Khitan menjadi salah satu kewajiban bagi orangtua muslim kepada anaknya. Dengan berkhitan maka syariat islam juga turut disyiarkan. Dalam pelaksanaan khitan pada perempuan dan laki-laki yang dianjurkan adalah pelaksanaan khitan tersebut sedangkan perayaan dalam khitan tidak mengapa jika tidak bisa melakukannya.

khitan dalam pandangan islam

Inilah Khitan Dalam Pandangan Islam

Untuk memahami lebih jelas mengenai khitan dalam pandangan islam mari kita simak pendapat Ibnu Qoyyim rahimahullah dalam kitab yang dinamakan ‘Tuhfatul Maudud Fi Ahkamil-Maulud’ dalam kitab ini ditulis bab khusus berbicara tentang khitan dan hukumnya. Dilansir dari ringkasan islamqa.info disertai tambahan dari lainnya.

Ibnu Sabbagh mengatakan dalam ‘As-Syamil’: “khitan dalam pandangan islam yang wajib bagi lelaki adalah memotong kulit yang ada di kulup sampai kelihatan semuanya. Sementara wanita, dipotong daging seperti jambul ayam jantan di bagian atas kemaluan diantara dua katup, kalau dipotong, maka akan tetap (masih ada) aslinya seperti bijian.

Nawawi rahimahullah mengatakan, “Yang kuat dan terkenal bahwa harus memotong semua (kulit) yang menutupi kulupnya.” Selesai ‘Al-Majmu’.

Al-Juwaini mengatakan, “khitan dalam pandangan islam ,batasan yang tepat bagi para wanita, apa yang sesuai dengan penamaannya. Beliau berkata, “Dalam hadits ada yang menunjukkan perintah untuk menyedikitkan (dalam memotong). Berkata, “Potong sedikit dan jangan dipotong semuanya. Maksudnya biarkan tempat yang agak menonjol. ‘Tuhfatul Maudud

Kesimpulannya bahwa dalam mengkhitan lelaki adalah memotong semua kulit yang menutupi kulup. Dalam mengkhitan wanita, memotong bagian dari kulit yang seperti jambul ayam jantan yang ada di atas kemaluan.

khitan dalam pandangan islam

Sementara bagi lelaki, karena tidak memungkinkan bersuci dari kencing kecuali dengan berkhitan. Karena sisa air seni berkumpul di bawah kulit (kemaluan), maka tidak aman ketika keluar, sehingga pakaian dan badannya menjadi najis. Oleh karena itu biasanya Abdullah bin Abbas radhiyallahu anhuma sangat ketat terkait dengan masalah khitan. Imam Ahmad mengatakan, “Dahulu Ibnu Umar sangat ketat dalam masalah ini. Diriwayatkan darinya, dia tidak diperbolehkan berhaji dan shalat. Maksudnya kalau dia belum berkhitan. Selesai ‘Al-Mgni, (1/115).

Sementara hikmah khitan dalam pandangan islam bagi wanita, agar seimbang syahwatnya sehingga menjadi pertengahan. Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah ditanya tentang wanita, adalah agar menyeimbangkan syahwatnya. Karena kalau dia belum dikhitan, maka kuat syahwatnya. Sehingga dikatakan kepada wanita  yang belum berkhitan, “Wahai wanita yang belum dikhitan, sesungguhnya wanita yang belum dikhitan itu lebih sering mencari lelaki. Oleh karena itu, khitan dalam pandangan islamdidapati kefakiran (kerusakan) pada wanita Tartar dan wanita kulit sawo (asing) lebih banyak dibandingkan dengan wanita muslimah. Kalau terlalu berlebihan ketika meng khitannya, maka syahwatnya lemah, sehingga tidak sempurna keinginan suami. Kalau dipotong tidak berlebihan, maka didapatkan keinginannya (syahwatnya) secara seimbang. Wallahu’alam Majmu’ Al-Fatawa.

khitan dalam pandangan islam

Pada 2006 lalu, sebuah penelitian menunjukkan,  khitan dalam pandangan islam yang dikhitan terbukti jarang tertular infeksi melalui hubungan seksual dibanding yang tidak khitan. Penelitian yang dimuat dalam jurnal Pediatrics terbitan November 2006 itu menunjukkan, khitan ternyata bisa mengurangi resiko tertular dan menyebarkan infeksi sampai sekitar 50 persen dan merekomendasikan sunat bagi bayi yang baru lahir mengingat manfaatnya bagi kesehatan. Dalam konferensi internasional ke-25 tentang AIDS di Bangkok. Dipaparkan hasil penelitian khitan dalam pandangan islam, khitan bisa mengurangi tingkat HIV (virus penyebab AIDS), sipilis, dan borok pada alat kelamin.

Berikut adalah pandangan mengenai khitan dalam pandangan Islam:

  1. Pandangan dari Al-Qur’an: Tidak ada ayat langsung dalam Al-Qur’an yang secara eksplisit menyebutkan kewajiban khitan. Namun, ada beberapa ayat yang dianggap relevan oleh sebagian ulama dalam mendukung praktik khitan. Salah satunya adalah ketika Allah berbicara tentang mengikuti jejak Nabi Ibrahim (Abraham) dalam Surah Al-Nahl (16:123). Nabi Ibrahim dikenal sebagai tokoh yang patuh kepada Allah, dan mengikutinya mencakup pula tindakan khitan.
  2. Pandangan dari Hadis: Hadis atau perkataan dan tindakan Nabi Muhammad merupakan sumber utama hukum Islam selain Al-Qur’an. Dalam hadis, terdapat banyak riwayat yang menunjukkan bahwa Nabi Muhammad menganjurkan praktik khitan. Khitan dianggap sebagai tindakan yang dianjurkan atau sunnah dalam Islam. Sebagai contoh, terdapat hadis yang meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad berkata, “Ibrahim bersunat ketika berusia delapan puluh tahun” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Ini menunjukkan bahwa Nabi Ibrahim dan Nabi Muhammad sebagai keturunannya adalah contoh dalam praktik khitan.
  3. Hukum dan Keutamaan Khitan: Berdasarkan pandangan mayoritas ulama, khitan dianggap sebagai tindakan sunnah mu’akkadah, yaitu sunnah yang sangat ditekankan untuk dilakukan. Meskipun khitan tidak diwajibkan dalam Islam, umat Muslim dianjurkan untuk melakukan khitan pada anak laki-laki mereka dalam usia yang sesuai, biasanya sebelum mencapai usia pubertas. Praktik ini dianggap memiliki manfaat kesehatan dan juga merupakan pengamalan sunnah yang mengikuti contoh Nabi Ibrahim dan Nabi Muhammad.

Dalam kesimpulannya, khitan dalam Islam tidak diwajibkan tetapi dianjurkan sebagai tindakan sunnah mu’akkadah. Pandangan ini didasarkan pada hadis-hadis Nabi Muhammad yang menganjurkan praktik khitan dan mengikuti jejak Nabi Ibrahim. Meskipun tidak diwajibkan, banyak umat Muslim yang memilih untuk melakukan khitan pada anak laki-laki mereka sebagai bagian dari penghayatan agama dan tradisi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *